Tampilkan postingan dengan label Global. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Global. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Juni 2021

Kekuatan Kapal Induk AS Dipamerkan dengan Ledakan di Lautan

Kekuatan Kapal Induk AS Dipamerkan dengan Ledakan di Lautan

Foto: USS Gerald R Ford saat menjalani uji coba di Samudra Atlantik (Jackson ADKINS US NAVY/AFP)
Washington D.C - Amerika Serikat kembali pamer kekuatan militer. Baru-baru ini, Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) telah memulai serentetan uji coba terhadap kapal induk terbaru dan paling canggih miliknya dengan ledakan di laut.

Ledakan dahsyat di lautan itu dilakukan untuk menentukan apakah kapal induk terbaru itu siap untuk berperang. Seperti dilansir AFP, Senin (21/6/2021), uji coba pertama, yang disebut sebagai Full Ship Shock Trials, digelar oleh Angkatan Laut Amerika Serikat pada Jumat (18/6) waktu setempat.

Uji coba itu melibatkan sebuah ledakan dahsyat di lautan di dekat kapal perang bernama USS Gerald R Ford itu. Tampak dari foto dan video yang beredar, semburan air laut sangat besar imbas dari ledakan dahsyat di lautan tersebut.

Disebutkan media-media AS bahwa semburan dahsyat itu dipicu oleh ledakan seberat 40 ribu pon atau 18.144 kilogram.

Bahkan Survei Geologi AS (USGS) melaporkan bahwa ledakan untuk uji coba yang terjadi di Samudra Atlantik, tepatnya lepas pantai Florida itu, tercatat sebagai gempa bumi. Tak main-main, gempa bumi berkekuatan 3,9 Magnitudo dihasilkan dari ledakan tersebut.

"(Angkatan Laut) Melakukan uji coba kejutan terhadap desain kapal baru dengan menggunakan peledak sungguhan untuk mengonfirmasi bahwa kapal perang kita bisa terus memenuhi persyaratan misi yang menuntut, di bawah kondisi sulit yang mungkin dihadapi dalam pertempuran," demikian pernyataan Angkatan Laut AS.

Usai uji coba dilakukan, kapal perang itu dilakukan perawatan dan perbaikan.

Disebutkan Angkatan Laut AS bahwa uji coba ini dilakukan 'dalam jadwal ketat yang mematuhi persyaratan mitigasi lingkungan, menghormati pola migrasi satwa laut di area uji coba.


Detik

Senin, 21 Juni 2021

Lukisan Tiruan Mona Lisa Terjual Rp49 Miliar di Paris

Lukisan Tiruan Mona Lisa Terjual Rp49 Miliar di Paris

J
Jakarta -
Seorang kolektor Eropa membeli lukisan tiruan Mona Lisa dari Leonardo da Vinci yang dibuat pada abad ke-17 dengan harga 2,9 juta euro (sekitar Rp49,8 miliar), rekor untuk reproduksi Mona Lisa, dalam lelang di Christie's Paris, Jumat waktu setempat.

Dikenal sebagai "Hekking Mona Lisa", dinamai dari pemilik lukisan yang berusaha meyakinkan orang-orang bahwa lukisan tiruan yang dia punyai pada 1950-an adalah yang asli, lukisan ini adalah satu dari banyak reproduksi dari Mona Lisa asli yang dipamerkan di museum Louvre Paris.

"Ini luar biasa, ini rekor untuk reproduksi Mona Lisa," kata juru bicara Christie's dikutip dari Reuters, Senin.

Dia mengatakan ada 14 penawar di lelang internasional itu dan di jam terakhir, penawaran naik dari 500.000 menjadi 2,4 juta euro, sebelum harga akhir 2,9 juta euro.

Lukisan asli Mona Lisa di Louvre tidak dijual. Tapi pada 2017, Christie's New York menjual "Salvator Mundi" dari da Vinci seharga 450 juta dolar AS (Rp6,5 triliun) untuk seorang penawar via telepon yang identitasnya tidak diungkap, membuatnya jadi karya seni paling mahal yang terjual di pelelangan.


Sumber: Antara

Senin, 14 Juni 2021

Hendak Kudeta Raja Abdullah, Pangeran Yordania Cari Bantuan Arab Saudi

Hendak Kudeta Raja Abdullah, Pangeran Yordania Cari Bantuan Arab Saudi

Pangeran Hamzah bin Hussein dari Kerajaan Yordania bersama istrinya, Putri Basmah. Foto/Yousef Allan/Royal Palace/REUTERS
Amman -
Pangeran Yordania Hamzah bin Hussein berupaya untuk mengudeta Raja Abdullah II dengan dukungan Arab Saudi . Demikian dokumen dakwaan pengadilan terhadap dua terdakwa kasus percobaan kudeta yang dirilis hari Minggu.

Kedua terdakwa memiliki hubungan dekat dengan negara tetangga, Arab Saudi. Keduanya adalah mantan kepala istana kerajaan Bassem Awadallah yang juga berkewarganegaraan Saudi, dan mantan utusan khusus kerajaan, Sharif Hassan bin Zaid.

Kedua terdakwa menghadapi persidangan di Pengadilan Keamanan Negara akhir bulan ini. Menurut salah satu pengacara mereka, keduanya menghadapi hukuman 20 tahun penjara jika terbukti bersalah.

Tetapi Pangeran Hamzah, saudara tiri Raja Abdullah II, yang dituduh terlibat dalam upaya kudeta 3 April lalu tidak akan diadili.

Pihak berwenang mengatakan kasus Pangeran Hamzah telah diselesaikan dalam keluarga Kerajaan Hashemite.

Pihak berkuasa di Arab Saudi dengan tegas membantah terlibat dalam upaya kudeta tersebut.

Setelah berita upaya kudeta pertama kali tersiar, Riyadh dengan cepat menyatakan dukungan penuhnya untuk Yordania dan untuk keputusan dan tindakan yang diambil oleh Raja Abdullah II serta Putra Mahkota Hussein untuk menjaga keamanan dan stabilitas.

Meski tidak diadili, dugaan peran Pangeran Hamzah dalam upaya kudeta tetap akan menjadi pusat persidangan.

"Pangeran Hamzah bertekad untuk memenuhi ambisi pribadinya untuk memerintah, yang melanggar konstitusi dan tradisi Hashemite," bunyi dokumen dakwaan yang dilansir AFP, Senin (14/6/2021).

"Untuk berhasil, dia berusaha untuk mengeksploitasi kekhawatiran dan masalah penduduk dan untuk membangkitkan hasutan dan frustrasi di masyarakat," lanjut dokumen tersebut.

Awadallah dianggap oleh beberapa media Yordania dekat dengan Putra Mahkota Saudi Mohammad bin Salman (MBS).

Dokumen dakwaan mengatakan Awadallah dekat dengan pejabat kerajaan Arab Saudi dan memiliki jaringan kontak di luar negeri.

Sedangkan Pangeran Hamzah dilaporkan sangat prihatin dengan sikap Riyadh.

“Jika sesuatu yang buruk terjadi pada saya di Yordania, apakah pejabat Saudi akan membantu saya atau tidak?,” tanya Hamzah kepada Awadallah, menurut dakwaan dakwaan. 

Minggu, 13 Juni 2021

Parlemen Israel berikan suara koalisi baru, kekuasaan Netanyahu tamat

Parlemen Israel berikan suara koalisi baru, kekuasaan Netanyahu tamat

Yerusalem -
Kekuasaan 12 tahun perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan berakhir pada Minggu ketika parlemen memberikan suara untuk pemerintahan baru, mengantarkan pemerintahan yang berjanji akan menyembuhkan sebuah negara yang terpecah akibat kepergian pemimpin terlama negara tersebut.

Netanyahu, 71, politisi Israel paling dominan di generasinya, gagal membentuk pemerintahan setelah pemilu Israel 23 Maret, yang keempat dalam dua tahun. Kabinet baru, yang akan dilantik setelah mosi tidak percaya Knesset (parlemen) diperkirakan menang, akan dirancang bersama oleh pemimpin oposisi tengah Yair Lapid dan ultra nasionalis Naftali Bennett.

Bennett, jutawan teknologi mandiri, akan menjabat sebagai perdana menteri selama dua tahun sebelum Lapid, mantan host TV kenamaan, mengambil alih. Mereka akan memimpin pemerintahan yang terdiri atas partai-partai dari semua spketrum politik, termasuk untuk yang pertama kalinya mewakili 21 persen minoritas Arab. Mereka sebagian besar berencana menghindari langkah-langkah sweeping pada isu-isu internasional seperti kebijakan terhadap Palestina selagi berfokus pada reformasi dalam negeri.

Dengan sedikit atau tidak adanya prospek terhadap penyelesaian konflik dengan Israel, banyak rakyat Palestina tidak akan tergugah oleh perubahan pemerintahan tersebut, mengatakan Bennett sepertinya akan mengejar agenda sayap kanan yang sama seperti Netanyahu.

Selamat Tinggal BIBI?

Di panggung internasional, dengan kefasihan berbahasa Inggris dan suara bariton yang menggelegar, Netanyahu yang telegenik menjadi wajah Israel. Menjabat sebagai perdana menteri untuk pertama kalinya pada 1990an, dan sejak 2009 sukses melanjutkan empat kali masa jabatan, ia menjadi sosok yang terpolarisasi, baik di dalam maupun di luar negeri.

Kerap dipanggil dengan sebutan Bibi, Netanyahu dicintai oleh para pendukung garis kerasnya dan dibenci oleh para krittikus. Sidang korupsinya yang sedang berlangsung, tuduhan yang dibantah oleh Netanhyahu, hanya memperparah perbedaan.

Para penentangnya telah lama mencela apa yang dianggap sebagai retorika pemecah Netanyahu, taktik politik licik dan penaklukan kepentingan negara untuk kelangsungan hidup politiknya sendiri. Sejumlah pihak menjulukinya "Menteri Kejahatan" dan menuding drrinya tidak becus menangani kriris COVID-19 dan ekonomi negaranya.

Perayaan dari para penentangnya untuk menandai kisah akhir era Netanyahu dimulai sejak Sabtu malam di depan kediaman resminya di Yerusalem, tempat digelarnya aksi protes mingguan terhadap pemimpin sayap kanan selama setahun terakhir, di mana terdapat spanduk hitam yang bertuliskan: Selama Tinggal, Bibi, Selamat Tinggal".

Akan tetapi sebagian besar dan basis pemilih loyal Netanyahu, kepergian "Raja Bibi" seperti yang disebutkan segelintir orang, kemungkinan sulit untuk diterima. Pendukungnya geram atas apa yang mereka lihat saat negara itu mendepak seorang pemimpin yang berdedikasi untuk keamanan dan benteng melawan tekanan internasional untuk setiap langkah yang dapat mengarah ke negara Palestina, bahkan saat ia mempromosikan kesepakatan diplomatik dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko dan Sudan.

Namun, tak ada satupun dari langkah itu atau peran yang ia lakonkan dalam mengamankan vaksin COVID-19 untuk kampanye vaksinasi negara tersebut, cukup memberikan suara kepada partai Likud Netanyahu untuk mengamankan masa jabatan keenamnya.

Benett secara khusus menuai kemarahan dari dalam kubu sayap kanan lantaran melanggar janji kampanye dengan bergabung bersama Lapid. Ia membenarkan langkah itu dengan mengatakan pemilu yang lain, yang kemungkinan akan digelar jika tidak ada pemerintah yang dibentuk, yang bakal menjadi bencana bagi Israel.

Baik dirinya maupun Lapid mengaku mereka ingin menjembatani perpecahan politik dan menyatukan warga Israel di bawah pemerintahan yang akan bekerja keras untuk seluruh warga negaranya.

Kabinet mereka menghadapi tantangan diplomatik, keamanan dan keuangan yang sangat berat: Iran, gencatan senjata yang lemah dengan milisi Palestina di Gaza, penyelidikan kejahatan perang oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC) serta pemulihan ekonomi pascapandemi COVID-19.

Selain itu, partai koalisi campur aduk mereka hanya menguasai mayoritas tipis di parlemen, 61 dari 120 kursi Knesset, dan masih harus bersaing dengan Netanyahu - yang yakin akan menjadi kepala oposisi yang agresif. Dan tidak ada yang mengesampingkan kembalinya Netanyahu.


Sumber: Reuters

Kamis, 10 Juni 2021

Israel Perintah Robohkan 1.500 Rumah Warga Palestina di Silwan Yerusalem

Israel Perintah Robohkan 1.500 Rumah Warga Palestina di Silwan Yerusalem

Polisi Israel mengawasi alat berat yang menghancurkan rumah warga Palestina di Beit Hanina, Yerusalem timur. Foto/REUTERS
SILWAN –
Wilayah Yerusalem kembali memanas. Otoritas Kota Yerusalem yang dikelola Israel mengeluarkan perintah pembongkaran untuk puluhan keluarga Palestina di pinggiran Al-Bustan, lingkungan Silwan, Yerusalem Timur.

Pemberitahuan pembongkaran menyatakan, “Kami ingin memberi tahu Anda bahwa kami akan melakukan pembongkaran sesuai dengan keputusan pengadilan. Untuk meminimalkan kerusakan, Anda harus meninggalkan rumah tanpa orang dan barang hingga 21 hari setelah menerima surat ini. Pemerintah kota tidak bertanggung jawab untuk kerusakan properti jika rumah tidak dievakuasi seperti yang disebutkan.

Ini terjadi setelah pengadilan Israel menunda keputusannya atas banding yang diajukan bulan lalu oleh dua dari tujuh keluarga Palestina di Silwan yang menghadapi pemindahan paksa dari rumah mereka.

Di luar gedung pengadilan, warga Silwan telah berkumpul bersama puluhan pendukungnya untuk mengecam perintah pembongkaran tersebut.

Namun, pasukan keamanan Israel dengan keras membubarkan unjuk rasa tersebut.

Aparat Israel memukuli para pengunjuk rasa dan menangkap Sultan Surhan dan Qutaiba Odeh, 16, warga Silwan yang rumahnya diancam dengan perintah pembongkaran.

Qutaiba Odeh mengatakan bahwa apa yang terjadi di Sheikh Jarrah sekarang terjadi di Silwan.

Lingkungan Al-Bustan di Silwan, yang terletak di selatan Kota Tua Yerusalem, memiliki 119 keluarga di 88 bangunan yang terancam dibongkar untuk dijadikan taman arkeologi Israel.

Otoritas Israel di Kota Yerusalem telah secara resmi mengubah nama Al-Bustan menjadi Gan Hamelekh (Taman Raja).

Mereka mengklaim bahwa itu adalah taman untuk raja-raja Israel ribuan tahun yang lalu.

Kebijakan pembongkaran rumah dan penghancuran properti lainnya yang dipraktikkan secara luas Israel menargetkan seluruh keluarga.

Pembongkaran tersebut dianggap sebagai hukuman kolektif yang ilegal dan merupakan pelanggaran hukum hak asasi manusia internasional.


Sumber: Reuters