Selasa, 10 November 2020

Industri Hulu Migas Pioner Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Lokasi Industri Migas Blok A, PT Medco E&P Malaka di Aceh Timur (Foto: Ist)
RILIS
.NET, Aceh Timur -
Peran industri minyak dan gas (Migas) menjadi salah satu pioner pertumbuhan perekonomian di Indonesia, tak terkecuali di Provinsi Aceh, dan Aceh Timur khususnya. Industri hulu migas terbukti dapat memberikan dampak yang positif bagi daerah.

Dengan adanya industri hulu migas di daerah tentunya warga di sekitar area eksplorasi tidak luput dari perhatian perusahaan, baik itu terkait rekrutmen tenaga kerja lokal, prioritas pemberdayaan maupun program pelatihan untuk warga sekitar dan berbagai kegiatan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) tentu dapat terwujud dengan adanya penyaluran Corporate Sosial Responsibility (CSR) dari pihak perusahaan.

Di Kabupaten Aceh Timur misalnya, perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan migas, dan sedang melakukan kegiatan eksplorasi di Blok A ini telah mulai menyalurkan CSR di daerah itu sekitar lima tahun yang lalu. Salah satunya adalah berupa adanya pembangunan Rumah Sakit (RS) yang bertaraf internasional dari dana CSR PT Medco E&P Malaka senilai Rp75 miliar rupiah, yang diberi nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Zubir Mahmud.

Rumah sakit yang dibangun oleh anak perusahaan PT Medco Energi Internasional Tbk diatas lahan 8.199 meter persegi ini, saat itu diresmikan oleh Gubernur Aceh dr Zaini Abdullah bersama CEO Medco Energi Lukman Mahfoedz, pada tahun 2015 di Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh.

Tak hanya itu, potensi pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) tentu juga menjadi harapan banyak pihak, seperti pelatihan dan peningkatan kompetensi warga disekitar lingkar tambang. Untuk program itu Medco E&P Malaka turut menyediakan Rumah Pemberdayaan Ibu dan Anak.

"Rumah tersebut menjadi pusat sarana pendidikan berbasis masyarakat, serta menjadi wadah sosialisasi dan komunikasi terkait industri hulu migas," sebut General Manager Medco E&P Malaka Susanto saat membuka kegiatan itu beberapa waktu yang lalu.

Menurutnya, rumah pemberdayaan ini memiliki berbagai program pemberdayaan ibu dan anak, seperti kursus baca-tulis, hitung, bahasa Inggris, komputer, keterampilan dan kesenian budaya. Selain itu kata Susanto, juga disediakan sarana perpustakaan dan fasilitator program bagi kaum ibu, serta turut mempersiapkan program kesehatan dan berbagai pelatihan keterampilan, termasuk nursery untuk belajar pemanfaatan tanaman obat organik.

Selain itu tentu yang tak boleh luput adalah program prioritas tenaga kerja lokal, walaupun tidak mampu menampung semua putra-putri terbaik daerah, namun dapat dipastikan sejumlah pemuda dan warga dikawasan itu direkrut sebagai tenaga kerja lokal. Ini tentu menjadi urgen dalam memberdayakan warga sekitar, serta diharapkan adanya peningkatan kesejahteraan warga sekitar sebagai efek dari aktifitas pertambangan hulu migas di daerah.

Dengan adanya industri hulu migas dan penyaluran dana CRS dari perusahaan penambang untuk masyarakat di daerah itu, diharapkan akan menjadi pioner pembangunan ekonomi masyarakat sekitar, perputaran ekonomi yang dilakoni oleh para pekerja lokal tentu juga menjadi bagian dari perputaran ekonomi ditengah masyarakat, hal itu akan menjadi salah satu bentuk pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar lingkar tambang.

Data yang diperoleh media ini menunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi di daerah Kabupaten Aceh Timur pasca beroperasinya perusahaan Medco E&P Malaka di daerah itu. Hal ini terungkap dari pemaparan Asisten Administrasi Umum Setdakab Aceh Timur Teuku Reza Rizki, SH, M.Si dalam acara Webinar yang digelar oleh Medco E&P Malaka dan Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), dengan 120 wartawan yang bertugas di Aceh Timur, saat dibukanya acara Lomba Karya Jurnalistik (LKJ) 2020, secara daring pada Selasa (27/10/2020) lalu.

Selain Bupati Aceh Timur H. Hasballah Bin H.M Thaib, SH, dalam acara ini juga dihadiri oleh Kepala BPMA Teuku Mohamad Faisal danVP Relations & Security Medco E&P Malaka Drajat Panjawi, serta beberapa wartawan senior dan pegiat media seperti Ayi Jufridar dan Makroen Sanjaya yang turut mengisi acara webinar itu.

Menurut Teuku Reza Rizki, berdasarkan sumber data dari Badan Pusat Statistik (BPS)  2020, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Aceh Timur dengan migas pada tahun 2019 mampu tumbuh sebesar 4,41 persen dibandingkan tahun 2018. Pertumbuhan tersebut juga dianggap lebih baik dari periode sebelumnya yang pertumbuhannya 4,43 persen.

"Jika dilihat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Aceh Timur tanpa migas pada tahun 2019 tumbuh sebesar 4,46 persen bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Adapun pertumbuhan ekonomi tanpa migas pada tahun 2018 sebesar 4,24 persen," ujar Teuku Reza Rizki.

Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui adanya peningkatan pertumbuhan ekonomi di daerah, selain itu juga menunjukkan bahwa keberadaan industri hulu migas menjadi pioner pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Dari penelusuran media ini, sejak dimulainya industrialisasi migas modern pada pertengahan abad ke-19, industri migas telah memainkan peran dominan bagi pertumbuhan ekonomi di berbagai belahan dunia, baik dari sisi penghasil maupun dari sisi pengguna (konsumen).

Begitu juga di negara Indonesia, industri migas yang sudah dieksploitasi lebih dari 125 tahun dan meliputi area kontrak wilayah kerja, telah melalui berbagai siklus dan perubahan yang mengharuskannya untuk beradaptasi. Dipengaruhi perubahan teknologi, tingkat kebutuhan dan juga fluktuasi harga migas dunia, produksi-produksi gas nasional beberapa tahun terakhir justru menunjukkan angka yang lebih besar dibanding produksi minyak buminya.

Dari data yang diperoleh media ini menunjukkan, kontribusi produksi gas nasional saat ini mencapai 60% terhadap porsi produksi migas total. Kondisi ini diproyeksikan akan terus meningkat hingga mencapai 70% pada 2020 dan 86% pada 2050, mengingat potensi gas bumi yang lebih besar dibandingkan dengan minyak bumi nasional.

Salah satunya penyebab pertumbuhan ekonomi di daerah bisa melaju dengan cepat, jika kawasan itu memiliki potensi Sumber Daya Alam (SDA) berupa migas, selain adanya dana bagi hasil migas, daerah juga diuntungkan dengan adanya perputaran ekonomi, serta dampak positif lainnya dalam berbagai bentuk kegiatan yang bersumber dari CSR perusahaan.

Itu sebabnya banyak daerah di Indonesia yang terus menggali potensi daerah seperti eksplorasi seismik untuk mencari sumber daya alam dilepas pantai seperti migas. Serta kebijakan lainnya dari pemerintah yang turut mempermudah perizinan bagi dunia investasi agar bisa masuk kedaerah, sebagai upaya memicu lajunya pertumbuhan ekonomi daerah.

Di Kabupaten Aceh Timur misalnya, Bupati H. Hasballah HM.Thaib yang sering disapa dengan Rocky mengimbau semua pihak agar mendukung segala investasi di Aceh Timur Provinsi Aceh. Menurut Rocky dengan masuknya investor akan mendapat keuntungan, baik perusahaan, negara, masyarakat, maupun Pemerintah Daerah setempat.

“Semua pihak harus mendukung segala bentuk investasi di Aceh Timur, seperti PT Medco E&P Malaka, karena dengan masuknya investor akan mendapat keuntungan, baik perusahaan, negara, masyarakat maupun Pemerintah Daerah setempat,” ujar Bupati Rocky, dalam siaran pers yang dikelurkan Bagian Humas Sekdakab Aceh Timur, pada Rabu 2 Juli 2017 lalu, Medco E&P Malaka mulai menjalankan tahapan kontruksi saat itu.

Menurutnya, investasi tidak boleh terganggu bahkan gagal. Karena tujuannya adalah demi keuntungan negara, dan keuntungan rakyat, termasuk perusahaan. Pemerintah Kabupaten Aceh Timur kata Rocky, saat ini terus menyakinkan para investor agar menanamkan modal di Aceh Timur, sehingga lapangan kerja untuk rakyat akan tersedia, begitu juga dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat di kawasan lingkar tambang.

“Keberadaan Medco di Aceh Timur harus kita dukung demi kemajuan daerah dan juga akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat nantinya di Aceh Timur," harap  Bupati Rocky (red/m.kbr)



Penulis: Mahyuddin Kubar
BAGIKAN

0 facebook: