Sabtu, 26 September 2020

Jangan Paksakan 'Keuntungan' Pribadi, Karena Damai Sangat Berarti

Ilustrasi (Foto: Google)
RILIS.NET, Aceh Timur - Damai itu indah, sepenggal kalimat ini sering terdengar bahkan telah menjadi selogan untuk mendorong adanya keharmonisan antar sesama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Damai dapat berarti sebuah keadaan tenang. Damai dapat juga menggambarkan keadaan emosi dalam diri. Damai dapat pula diartikan sebuah harmoni dalam kehidupan alami antar manusia di mana tidak ada perseturuan ataupun konflik, dan akhirnya damai juga dapat berarti kombinasi dari definisi-definisi tadi.

Pada dasarnya, untuk membangun perdamaian sejati mesti sampai pada menciptakan budaya damai. Budaya damai itu menyangkut pola pikir, cara bersikap, perilaku, karakter, mentalitas, keyakinan, pola hubungan dengan pihak lain, tata kehidupan bersama yang ditandai dengan nilai-nilai luhur seperti keadilan, kesetaraan, demokrasi, dan solidaritas. 

Menurut para ahli, damai itu adalah merupakan penyesuaian pada pengarahan dari seseorang atau kelompok dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan dalam hidup. Biswas misalnya, ia berpendapat jika arti damai memiliki tujuan untuk mengekspos berbagai cara tanpa menggunakan kekerasan untuk mengatasi sebuah konflik.

Untuk itu, tak ada sesuatu apapun yang paling berharga untuk mempersembahkan kenyamanan warga, selain dengan kondisi damai. Tidak ada arti suatu keuntungan dan kemewahan yang kita miliki, jika kedamaian disuatu negeri telah tergadai dengan kepentingan ego sektoral.

Bila kita menyikapi persoalan yang sedang terjadi saat ini, khususnya di Aceh Timur, ada baiknya segala sesuatu uarus dipertimbangkan secara matang, disini, memang kita sedang tidak mengkalkulasi keuntungan, baik kepada siapa dan dari mana, apalagi jika bila terlalu jauh menduga-duga juga percuma saja. Karena yang harus menjadi perhitungan kita bersama yakni, adakah keuntungan itu berpihak kepada rakyat? atau justeru itu akan mengebiri hak masyarakat?, lagi-lagi jawabannya ada pada diri kita masing-masing untuk menjawab itu.

Namun, jika saja keuntungan dinikmati oleh pihak lain? tentu tidak pantas didaerah hanya menuai kegaduhan, akibat anak negeri saling tuding dan berujung pada aksi-aksi. Untuk itu sudah seharusnya para pihak yang mengantongi mandat dari rakyat harus bersikap tegas dan lebih peka memperjuangkan aspirasi anak negeri, dari pada harus menimbulkan niat untuk melakukan "perselingkuhan" dengan pihak luar.

Satu lagi, jangan pernah memaksakan kehendak, apalagi disituasi yang sangat genting untuk harus dipaksakan, ibarat berenang ditengah derasnya arus yang posisinya justeru berlawanan. Sebaliknya dianjurkan untuk menepi sejenak demi kebaikan.

Jika memaksakan kehendak kepada diri sendiri saja dapat menuai kecewa, apalagi pemaksaan kehendak kepada banyak orang. Tak heran kalau pemaksaan kehendak itu sebuah sikap yang tidak dianjurkan. Begitu pentingnya mencegah  pemaksaan kehendak dalam kehidupan bermasyarakat, maka negara kita mengaturnya dalam satu bab tersendiri soal hak asasi melalui UUD 1945.

Pemaksaan kehendak yang ditentang oleh banyak orang, justeru akan menuai kegaduhan yang tidak diinginkan. Sejatinya kedamaianlah yang mesti dipersembahkan karena itu adalah kebutuhan yang mendasar dalam hidup berbangsa dan bernegara. Damai itu sangat berarti, dan lebih bermakna dari pada keuntungan untuk pribadi. Budaya damai itu menyangkut bagaimana kita menata suatu kehidupan bermasyarakat yang bebas dari kegaduhan, untuk itu sudah sepantasnya semua harus bersikap bijak merelakan kedamaian itu tetap terus tegak berdiri, dari pada harus 'ngotot' memaksakan keuntungan untuk pribadi?. (Redaksi)
BAGIKAN

0 facebook: