Selasa, 29 Oktober 2019

Pengalaman dokter Ihsan Saat Misi Kemanusiaan TNI AL di Sudan

Kapten Laut (K) dr.Ihdan Primananda Prayoga, saat misi Perdamaian UN PBB di Sudan 2016.
RILIS.NET, Jakarta - Bermula dari perjalanan kereta MRT Jakarta, saat itu duduk disebelah ku seorang pria bertubuh atletis dan tampan sambil memegang erat anaknya dari kereta yang menuju stasiun Blok M. Jakarta, Sabtu (26/10/2019) lalu.

Dia adalah seorang Kapten Laut (K) bernama dr.Ihsan Primananda Prayoga (34), Ihsan seorang perwira TNI AL yang bertugas di Satkes Kodiklatal Surabaya. Saat itu ia tak sendiri, ditemani istrinya dr. Rully Novianty (32) yang juga tercatat sebagai dokter di Kowad TNI AD ikut menemaninya dalam kereta cepat saat itu yang terus melaju ditengah kota.

Percakapan kamipun dimulai, hingga sampai di halte Blok M, saat itu Ihsan dan istrinya turut mengajak ku jalan - jalan dan makan, tawaran itu aku iyakan sebagai sebuah awal dari persaudaraan kami, diperjalanan aku telah menebaknya bahwa dia adalah seorang tentara tampak dari gayanya.
dr. Ihsan Primananda Prayoga ditemui rilisNET, saat bersama keluarganya di Blok M Jakarta
"Kok tahu saya tentara, saya suka aja berpenampilan agar lebih casual begini, biasanya kebanyakan anak kuliahan berpenampilan kayak gini," ucap dr. Ihsan Primananda Prayoga saat ditemui rilisNET, bersama keluarganya di Blok M Jakarta.

dokter Ihsan yang sedang mendampingi keluarganya hari itu, mengenakan jelana jeans dan kaus oblong warna hitam, memang sekilas tampak seperti anak kuliahan yang masih lajang, padahal alumni Dikmapa PK TNI 2011 itu sudah mempunyai 3 orang anak dari istrinya dr.Rully Novianty.

Ketiga anaknya itu bernama Avthara Jaladhipa Wirasakti (5), Arraskha Ghifary Arthadirga (4), serta Alfarezel Raffan Haufanza (2), semua lelaki dan tampak cerdas dan lucu.

Sebagai seorang prajurit, tentu sering mendapatkan tugas ataupun perintah dari atasan, sebagai seorang tentara kata Ihsan, memang harus siap bila sewaktu - waktu ditugaskan kemanapun.

Dari sekian banyak tempat yang pernah ditugaskan Ihsan mengaku pengalaman yang paling berharga saat dia dan satuannya mendapatkan kepercayaan dalam rangka misi perdamaian UN PBB pada 2016 - 2017 di Sudan benua Afrika.

"Selama penugasan Satgas tersebut hal yang paling berharga disana adalah melawan cuaca ekstrim. Panas sampai 40 derajat celcius, juga badai pasir (haboob) yang kerab melanda daerah Darfur saat itu menjadi pengalaman yang tak akan pernah terlupakan," kata dr.Ihsan mengwali cerita dan pengalamannya saat misi perdamaian itu.

Kontingen yang tergabung dalam Garuda (Konga) XXXV-B Unamid Darfur - Sudan tahun 2016-2017 itu, selain menjalankan misi perdamaian tambah Ihsan, juga sebagai pelerai antara etnis yang bertikai disana, pasukan yang ditugaskan juga melakukan pengawalan dan proteksi terhadap sipil saat itu.

"Kami sering juga melakukan pengobatan kepada masyarakat secara gratis, serta turut memberikan bantuan dari mulai bahan pangan hingga pembangunan tempat ibadah kepada masyarakat disana," ujar Ihsan.

Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) 2003 ini mengawali karir di militernya pada Dikmapa PK TNI Angkatan 18 tahun 2011, kemudian mengikuti Diksargolankes 2011, dan mengikuti Dikspespakes 2014.

Selain itu dokter Ihsan juga telah melaksanakan beberapa penugasan antara lain, Lanal Aru 2011 - 2014, Diskes Koarmada II 2014 - 2019, Satkes Kodiklatal 2019, serta Resimen Chandradimuka pada tahun 2019. (Redaksi)
BAGIKAN

0 facebook: