Kamis, 24 Juni 2021

Kampung Tangguh Anti Narkoba Launching di Aceh Timur

Kampung Tangguh Anti Narkoba Launching di Aceh Timur

RILIS.NET, Aceh Timur - Untuk membentengi masyarakat dari pengaruh narkoba, Kapolres Aceh Timur AKBP Eko Widiantoro, S.I.K., M.H melaunching Kampung Tangguh.

Agar terhindar dari penyalahgunaan narkoba. Peran penting dari orang tua untuk memperhatikan dan mengawasi  tingkah laku serta perilaku terhadap anak itu sendiri.

“Dalam kondisi saat ini kaum milenial sangat rentan dengan penyalahgunaan narkoba tanpa dibentengi iman dan edukasi dari stakeholder terkait seperti dari Polres Aceh Timur melalui Pembinaan Penyuluhan (Binluh) Satnarkoba, Satbinmas.” Terang Kapolres Kapolres Aceh Timur AKBP Eko Widiantoro, S.I.K.M.H.

Dalam Launching Kampung Tangguh Anti Narkoba tersebut juga dilakukan Penandatanganan Ikrar Anti Narkoba oleh Kapolres Aceh Timur didampingi oleh Camat Ranto Peureulak,Kasat Resnarkoba Polres Aceh Timur, Danramil 14/RTP, Kapolsek Ranto Peureulak, Keuchik Desa Pertamina serta Anggota Lembaga Anti Narkoba (LAN) Aceh Timur dan diakhiri penyerahan sembako oleh Kapolres Aceh Timur kepada warga kurang mampu di Desa Pertamina Kecamatan Ranto Peureulak. (rn/rd)

Rabu, 23 Juni 2021

Terlibat Narkoba 80 Kg, 8 Warga Aceh Timur dan Langsa Divonis Seumur Hidup

Terlibat Narkoba 80 Kg, 8 Warga Aceh Timur dan Langsa Divonis Seumur Hidup

Terdakwa saat menjalani sidang pada Rabu (23/6/2021)
RILIS
.NET, Aceh Timur -
 Karena terlibat dalam kasus narkoba jenis ekstasi dan sabu seberat 80 kilogram, delapan warga Langsa dan Aceh Timur ini divonis hukuman seumur hidup oleh Majelis Hakim di Pengadilan Negeri (PN) Idi, Aceh Timur, Rabu (23/6/2021) sore.

Dari kedelapan terdakwa yang divonis hukuman seumur hidup, terdapat 5 warga Aceh Timur yakni, Nazaruddin (25) warga Peureulak Timur, Azwar (30) Kecamatan Peureulak Timur, Ibrahim (38) warga Kecamatan Simpang Ulim, serta Hamdani (45), dan Muhammad Nur (33) juga warga Kecamatan Simpang Ulim.

Sedangkan 3 terdakwa lainnya beralamat di Kota Langsa masing-masing yaitu, Kahairul (23), Arif Budiman (28) dan Lukman (40).

Dalam sidang yang dimulai sejak pukul 14.00 WIB di PN Idi itu yang hadir dari Kejari Aceh Timur sebagai Jaksa Penuntut Umum (JPU) yaitu, Harry Arfhan, S.H dan M. Iqbal Zakwan, S.H.

Sidang itu dipimpin oleh Majelis Hakim dari PN Idiu Irwandi, S.H, Zaki Anwar, S.H serta Reza Bastira Siregar, S.H masing-masing sebagai Anggota.

Kepala Kejaksana Negeri Aceh Timur Semeru, SH MH, melalui Kasi Intel Andi Zulanda SH MH mengatakan, sebelumnya 7 orang dari terdakwa tersebut dituntut hukuman mati, dan satu orang lannya dituntut dengan hukuman seumur hidup.

"Namun hakim dari Pengadilan Negeri Idi menjatuhi hukuman seumur hidup terhadap kedelapan terdakwa itu," sebut Andi Zulanda kepada RILIS.NET, Rabu (23/6/2021) sore.

Terhadap hasil putusan itu, tambah Kasi Intel dari Kejari Aceh Timur ini, pihaknya masih pikir-pikir. "Jika pun Jaksa Penuntut Umum dan pihak terdakwa mau ajukan banding artinya masih ada waktu selama tujuh hari kedepan setelah putusan ini," tambah Andi Zulanda.

Kasi Intel Andi Zulanda turut mengulas kronologis singkat kasus yang menjerat kedelapan terdakwa itu.

Sebelumnya pada hari Rabu tanggal 28 Oktober sekira pukul 10.00 WIB, terdakwa Ibrahim dan Sdr Helmi (DPO) diperintahkan oleh terdakwa Muhammad Nur Bin Ramli untuk menunggu kedatangan boat yang mengangkut narkotika jenis sabu dan extasi di Tanggul Desa Lubuk Ulim Kecamatan Simpang Ulim Kabupaten Aceh Timur.

Kemudian pada hari Kamis tanggal 29 Oktober 2020 sekira pukul 21.00 WIB, terdakwa Ibrahim Bin Wahed dan Sdr Helmi (DPO) yang berada di tanggul Desa Lubuk Ulim Kecamatan Simpang Ulim, Aceh Timur tiba-tiba didatangi Abdullah (DPO) dengan menggunakan boat jenis puntung selanjutnya terdakwa Ibrahim Bin Wahed dan Sdr Helmi (DPO) mendekati boat tersebut dan menurunkan 5 (lima) buah karung goni yang didalamnya berisikan narkotika jenis sabu dan extasi ke darat.

"Spesampainya didarat terdakwa Ibrahim Bin Wahed dan Sdr Helmi langsung menyisipkan (mengepak) 1 (satu) buah karung goni ke dalam karung goni yang lain sehingga narkotika jenis sabu dan extasi tersebut menjadi 4 (empat) buah karung goni," kata Andi Zulanda.

Lalu sambungnya, pada hari Jum’at tanggal 30 Oktober 2020 sekira pukul 02.00 WIB, terdakwa Muhammad Nur Bin Ramli menghubungi Sdr Helmi (DPO) untuk mengantarkan narkotika jenis sabu dan extasi tersebut ke Jalan Kampung Desa Pelalu Kecamatan Simpang Ulim, Aceh Timur.

"Mendapatkan kabar tersebut terdakwa Ibrahim Bin Wahed dan Sdr Helmi (DPO) langsung mengantarkan narkotika jenis sabu dan extasi tersebut ke Desa Pelalu, Simpang Ulim, Aceh Timur dengan menggunakan sepeda motor yang mana terdakwa Ibrahim Bin Wahed dan Sdr Helmi (DPO) mengangkut masing-masing sebanyak 2 (dua) buah karung goni," tambahnya.

Setibanya terdakwa Ibrahim Bin Wahed dan Sdr Helmi (DPO) di Desa Pelalusambungnya, terdakwa Ibrahim Bin Wahed dan Sdr Helmi (DPO) melihat sudah ada terdakwa Muhammmad Nur dan 1 (satu) Unit Mobil Toyota Inova warna Putih yang menunggu selanjutnya terdakwa Ibrahim Bin Wahed, terdakwa Muhammad Nur dan Sdr Helmi (DPO) langsung memasukkan 4 (empat) buah karung goni yang didalamnya berisikan narkotika jenis sabu dan extasi ke dalam mobil Toyota Inova Warna Putih tersebut.

"selanjutnya para terdakwa ditangkap oleh penyidik Ditresnarkoba Polda Aceh," terang Andi Zulanda menambahkan.
Para terdakwa dihadapkan ke depan persidangan dengan dakwaan Primair : Pasal 114 Ayat (2) jo Pasal 132 Ayat (1) UU RI No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Subsidiair: Pasal 112 Ayat (2) jo Pasal 132 Ayat (1) UU RI No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

Para Terdakwa an. Ibrahim Bin Wahed, dan kawan-kawan disangkakan melanggar Pasal 114 ayat (2) jo pasal 132 ayat (1) UU RI No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

Selain mengamankan para tersangka saat itu, kata Andi Zulanda, juga turut diamankan Barang-bukti bukti berupa, 4 buah karung goni warna putih yang didalamnya berisikan 70 bungkus narkotika jenis sabu yang dibungkus dengan kemasan Teh Cina Merk Chinese Pin Wei warna hijau, dan 11 bungkus narkotika jenis sabu yang dibungkus dengan kemasan Teh Cina Merk Guanyingwang warna hijau.

"Selain itu juga turut diamankan 10 bungkus narkotika jenis extasi (MDMA) warna merah jambu, dan 10 bungkus narkotika jenis extasi (MDMA) warna hijau yang dibungkus dengan plastik warna bening," kata Andi.

Barang-bukti lainnya yang turut disita yaitu, 1 unit Bot Jenis Dompeng, 1 unit Mobil Honda Jazz warna Hitam No. pol BK 1541 SA. 1 unit mobil merk Toyota Innova, warna putih dengan No. Pol. : BK 1055 RN, sert 1 unit mobil Suzuki Ertiga warna putih BK 1047 EM, 1 unit handphone merk Strawberry warna hitam - merah dengan nomor 082383294397.

Selain itu juga turut diamankan 1 unit sepeda motor jenis Honda Beat Warna Hitam,1 unit Hp Nokia warna hitam No Sim 082277301526, 1 unit Handphone merk Nokia warna biru, 1 unit Handphone merk Redmi warna hitam.

"Selain itu juga terdapat 1 unit Handphone merk Redmi warna putih, 1 unit Hp nokia warna hitam, 1 unit HP Samsung Android A-7 warna hitam, dan 1 ounit Handphone merk Nokia warna biru dengan No. SIM 082273110962 dan no Imei 35770110431467," sebutnya kepada RILIS.NET. (rn/red)
Mantan KPA dan Rekanan Diperiksa Terkait Dugaan Korupsi Jembatan Jetty Aceh Besar

Mantan KPA dan Rekanan Diperiksa Terkait Dugaan Korupsi Jembatan Jetty Aceh Besar

Ilustrasi
Banda Aceh -
Kejaksaan Negeri Aceh Besar dikabarkan telah memeriksa sejumlah saksi dalam kasus dugaan korupsi pembangunan Jembatan Jetty Kuala Krueng Pudeng yang saat ini sudah masuk tahap penyidikan.

Menurut informasi, sejumlah pihak yang diperiksa itu terdiri dari mantan Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) M Zuardi serta PPTK pada Dinas Pengairan Aceh.

Selain itu penyidik juga telah memeriksa Direktur dan tenaga teknis CV Batel Design Engineering atas nama Abdul Syafi, Sumardi serta pihak rekanan pelaksana Yusri Lamno. Kajari Aceh Besar, Rajendra D Wiritanaya melalui Kasi Intelijen Deddi Maryadi mengatakan dalam kasus ini penyidik telah memanggil lebih dari 20 orang saksi dimintai keterangan.

"Benar, baik KPA, PPTK serta pihak rekanan telah diperiksa. Mereka dipanggil dalam kapasitas sebagai saksi tahap penyidikan. Namun belum ditetapkan tersangka," kata Deddi Maryadi, Rabu (23/6/2021).

Deddi juga menyebutkan saat ini tim penyidik dari Kejari Aceh Besar masih menunggu hasil audit kerugian negara dari pihak BPKP Aceh terhadap pekerjaan dermaga Krueng Pudeng dari pagu anggaran 2019 di Dinas Pengairan Aceh sebesar Rp17,4 miliar.

"Ekspos bersama BPKP Aceh telah dilakukan, namun ada yang belum lengkap. Secepatnya penyidik akan melengkapi sesuai petunjuk tim auditor," sebut Deddi.

Kasus dugaan korupsi jembatan telah ditingkatkan ke tahap penyidikan setelah penyidik menemukan bukti permulaan yang cukup. Penyidik menemukan pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi dalam pelaksanaan.


Sumber: ajnn
Peringati HUT Bhayangkara ke-75, Polres Aceh Timur Gelar Donor Darah

Peringati HUT Bhayangkara ke-75, Polres Aceh Timur Gelar Donor Darah

RILIS
.NET, Aceh Timur -
Dalam menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-75, Polres Aceh Timur menggelar sejumlah kegiatan bhakti sosial diantaranya donor darah yang diselenggarakan di Aula Bhara Daksa, Selasa (22/6/2021).

Donor darah ini sebagai dharma bhakti Polri, khususnya Polres Aceh Timur kepada masyakat.

Kapolres Aceh Timur, AKBP Eko Widiantoro, S.I.K, M.H menyebutkan Hari Bhayangkara ke-75 tahun 2021 ini mengambil tema; 'Dengan Transformasi Polri Yang Presisi, Mendukung Percepatan Penanganan Covid-19 untuk Masyarakat Sehat Dan Pemulihan Ekonomi Nasional Menuju Indonesia Maju.'

“Ini merupakan kegiatan sosial dan kemanusiaan, diharapkan darah yang sudah didonorkan dapat bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. Saya ucapkan terima kasih kepada para peserta yang sudah bersedia mendonorkan darahnya, karena dengan setetes darah bisa menyelamatkan nyawa orang lain,” ujar Kapolres.

Pihaknya juga turut berterimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan bakti sosial donor darah ini.

"Tentu harapan kami melalui kegiatan ini dapat memberikan banyak manfaat bagi masyarakat sekitar, termasuk kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan oleh Polres Aceh Timur," Pungkas Kapolres Aceh Timur AKBP ;Eko Widiantoro, S.I.K.,M.H.
Dalam pelaksanaan donor darah Polres Aceh Timur bekerjasama dengan Unit Transfusi Darah Rumah Sakit dr. Zubir Mahmud, Idi yang diketuai; dr. Nurleily, SpPK dengan melibatkan 11 tenaga kesehatan dan dibantu Urkes Bag Sumda Polres Aceh Timur.

Peserta donor darah berasal dari Pejabat Utamam Polres Aceh Timur, para kapolsek, anggota polres, perwakilan anggota polsek (masing masing polsek lima anggota) dan Bhayangkari.

Peserta yang akan mengikuti donor darah terlebih dahulu dilakukan pengecekan tekanan darah dan HB darah. Setelah diketahui tidak ada masalah dengan tekanan darah dan HB normal, dilanjutkan dengan proses pengambilan darah.

Sampai berakhirnya pelaksanaan donor darah, dari 132 peserta yang sudah mendaftar, berhasil dikumpulkan sebanyak 104 kantong darah.

Hal ini disebabkan, dari 132 pendaftar terdapat 28 yang HB-nya rendah sehingga tidak bisa mengikuti donor darah. Selanjutnya darah tersebut diserahkan kepada PMI Kabupaten Aceh Timur. (rn/aqb)
Polisi Diserang Saat Gerebek Kampung Narkoba di Palembang, Ada yang Dicekik

Polisi Diserang Saat Gerebek Kampung Narkoba di Palembang, Ada yang Dicekik

Kasat Narkoba Polrestabes Palembang AKBP Andi Supriadi
Palembang - Penggerebekan di kampung narkoba di Palembang sempat diwarnai kericuhan. Polisi dilempari batu bahkan ada yang dicekik.

Informasi yang dihimpun, polisi menggerebek sebuah kampung narkoba di wilayah Lorong Manggar Lawang Kidul, Ilir Timur II Palembang, Senin (22/6/2021) sore. Sekelompok warga tiba-tiba menyerang polisi.

"Ya dalam penggerebekan di kampung narkoba tersebut kita diserang oleh sekelompok warga di TKP, di mana ada provokator yang akan menghalangi kita dalam penyelidikan," kata Kasat Narkoba Polrestabes Palembang AKBP Andi Supriadi ketika gelar perkara di Palembang, Selasa (22/6/2021).

Polisi kemudian menangkap dua orang terduga provokator bernama Viktor dan Yanto. Selain itu, ada juga seorang pria diduga kurir ekstasi yang digelandang ke kantor polisi.

"Dua provokator yang memprovokasi aksi pelemparan batu dan yang mencekik anggota kita saat melakukan penggerebekan di kampung tersebut kita tangkap. Kurir ekstasi yang kita buru juga tidak luput, ketiganya kita amankan," kata Andi.

Polisi juga menyita barang bukti puluhan butir pil ekstasi siap edar dari tangan kurir. Terkait aksi pelemparan batu, Andi mengaku tidak ada anggota yang terluka.

"Barang bukti berupa 83 butir ekstasi kita amankan. Sedangkan terkait aksi pelemparan batu, beruntung tidak ada anggota yang terluka," ujarnya.

Penggerebekan ini, sambungnya, bermula dari laporan warga yang resah akan peredaran barang haram di kawasan tersebut.

"Saat itu, kita sedang melakukan penyelidikan di kawasan itu untuk menindaklanjuti adanya laporan warga terkait transaksi narkoba," katanya.

Andi menjelaskan, peran pelaku berbeda-beda. Pelaku Viktor yang membawa barang bukti 83 butir ekstasi, pelaku Yanto sebagai provokator massa, dan pelaku Hendra melawan polisi dengan mencekik anggota yang saat itu hendak menangkapnya.

"Pelaku memiliki peran masing-masing, ada yang merupakan kurir, ada yang provokasi aksi pelemparan batu, dan salah satu ada yang mencekik anggota kita," ungkapnya.

"Untuk ketiga pelaku kita ancam pasal 138 dan 112 dan 114 ayat 2," jelasnya.


Sumber: detiknews